Javaanse Cultuur in Suriname

Lanjutkan baca...

Javanen van Suriname in Nederland

Lanjutkan baca...

Benua Eropa memiliki tiga semenanjung utama yaitu Semenanjung Iberia, Semenanjung Apenina dan Semenanjung Balkan. Semenanjung Iberia berada paling barat dari tiga semenanjung yang lain, timur semenanjung Iberia terdapat semenanjung Apenina dan semenanjung paling timur ialah Semenanjung Balkan. Eropa yang memiliki tiga semenanjung utama, memiliki dinamika-dinamika tersendiri, dan dari ketiga semenanjung tersebut semenanjung Balkan yang memiliki kawasan dan dinamika penduduk yang unik. Semenanjung Balkan merupakan kawasan dengan entitas agama, politik dan etnis yang beraneka ragam. Dari sinilah kawasan Balkan memiliki suasana yang mencengkam dari ketiga semenanjung di Eropa. Masyarakat Balkan sendiri menyikapi perbedaan yang ada sering kali menghasilkan gejolak, pertentangan bahkan aksi-aksi kekerasan.


Semenanjung Balkan secara Umum terdiri dari negara-negara yang dikenal dengan negara Balkan: Kroasia, Bosnia Herzegovina, Macedonia, Serbia, Montenegro, Albania, Yunani dan Bulgaria, ditambah dengan Thrace Timur yaitu bagian Turki Eropa, Slovenia dan Rumania. Secara Geografis, semenanjung Balkan memiliki posisi yang cukup strategis, karena semenanjung Balkan dibatasi oleh laut-laut Eropa yang cukup luas, sebelah Utara semenanjung Balkan dibatasi oleh Laut Hitam dan Laut Aegea, di Selatan dibatasi oleh Laut Mediterrania dan sebelah Barat dibatasi oleh Laut Adriatik dan Laut Ionia. Karena posisi ini komoditi utama Balkan adalah perdagangan.

peta negara balkan
Gambar: Peta Negara-Negara Balkan


A. TERBENTUKNYA TURKI USTMANI
Pasca berkembangnya Islam di Arab dan di Eropa, mengakibatkan terjadinya reaksi-reaksi dari pemerintahan di Eropa. Paus gereja pusat Eropa mengalami kegundahan karena eksplorasi Islam yang bergerak cepat dan menginvasi Eropa. Reaksi ini mengakibatkan terjadinya peperangan-peperangan antara abad ke-10 dan ke-11. Kaum Kristen mengusir orang-orang Islam dari Eropa. Peperangan ini di kenal sebagai perang Salib. Karena saat peperangan kaum Kristen membawa salib untuk menunjukan identitasnya terhadap umat Muslim. Peperangan ini kadang kala dimenangkan oleh umat Muslim, sebaliknya dimenangkan juga kaum Nasrani.

Kedua belah pihak mengalami banyak kerugian akibat perang Salib ini, baik kerugian dari materi maupun non-materi. Saat perang salib terjadi, Islam dikuasai oleh kaum Abbasiyah, tetapi kaum Abbasiyah mengalami perpecahan politik diakibatkan banyak golongan yang memerdekakan diri dari kekuasaan Abbasiyah. Ditambah pula pada abad ke-13 kaum Kristen berhasil merebut Spanyol dari Dinasti Umayyah. Satu per satu kota-kota penting Spanyol jatuh ke tangan kerajaan Kristen. Cordova jatuh ke tangan ke kerajaan Kristen pada tahun 1238 M, disusul dengan kejatuhan Sevilla pada tahun 1248 M, hingga akhirnya kota terakhir Granada jatuh pada tahun 1492 M.

Kejatuhan Islam dan perpecahan Abbasiyah membuat sebuah Dinasti baru yang muncul di dalam pemerintahan Abbasiyah yang berasal dari luar Turki. Dinasti ini dapat membaur dengan orang Arab dengan mudah, dinasti ini dikenal sebagai Dinasti Saljuk. Dinasti Saljuk dapat memasuki pemerintahan Abbasiyah dan berhasil menguasai Baghdad tetapi kekuasaan tertinggi tetap dipegang oleh Bani Abbasiyah.

Dinasti Saljuk berasal dari beberapa kabilah kecil rumpun suku Ghuz di wilayah Turkistan. Mereka dipersatukan oleh Seljuk ibn Tuqaq, mengabdi kepada Bequ, seorang raja di wilayah Turkoman, sebagai pimpinan tentara. Karena pengaruh Saljuk yang besar, raja kemudian beserta pengikutnya pindah ke daerah Jand, suatu wilayah Muslim di Transoxiana. Mereka mendiami wilayah di atas izin Dinasti Samaniyyah dan masuk Islam dengan mazhab Sunni.

Berjalannya waktu Dinasti Saljuk diakui oleh kaum Abbasiyah di Baghdad pada tahun 1040 M, karena berhasil mengalahkan Mas’ud al-Gaznawi pada tahun 1036 M dan mengusirnya dari Khurasan. Dinasti Saljuk berhasil merebut daerah kekuasaan Gaznawi yaitu Marwa dan Naisabur. Kekuasaan Dinasti Saljuk bertambah kuat dengan bertambah pula daerah yang dikuasai seperti Balkh, Jurjan, Tarbaristan, Khawarizm, Ray dan Isfahan. Dengan memiliki kekuatan yang kuat dan kekuasaan yang besar membuat Dinasti Saljuk menguasai Bagdad menggantikan posisi dari Dinasti Buwaihi.

Pada tahun 1258 M, Dinasti Saljuk mendirikan sebuah kerajaan baru yang besar dengan berbasis Islam yang kuat, karena Dinasti Saljuk berhasil menguasai daerah-daerah kekuasaan Abbasiyah pada tahun 1214 M. Puncaknya membunuh pemimpin Abbasiyah dan membasmi kaum Abbasiyah dari Baghdad. Dengan berhasilnya mengusir kaum Abbasiyah dari Baghdad membuat suku bangsa Turkoman dari Trasoxiana berpindah ke arah barat dan dipimpin oleh para Bey serta merebut tanah di Asia Barat. Pada tahun yang sama, lahir seorang anak bernama Ustman di Anatolia dan dipandang keluarga Ghazi yang terkemuka. Ustman merupakan seorang Turkoman yang memimpin anak buahnya ke dalam daerah Anatolia paling barat. Ustman merupakan pendiri dari Imperium besar Islam. Ustman tidak sendiri mendirikan sebuah kerajaan, dia hanya berhasil membangun emirat ghazi kecil yang tangguh di Anatolia. Bersama dengan ghazi-ghazi yang lain seperti Karamanli, Aydin, Sarukhan, Kirgiz, Kazakh dan ghazi-ghazi yang tidak disebut namanya. Keturunan-keturunan dari Ustman disebut Ustmani, dari pendirian ini Imperium tersebut disebut sebagai Turki Ustmani.

peta dinasti turki ustmani
Gambar: Peta Dinasti Turki Ustmani


C. TURKI USTMANI MEMASUKI EROPA DAN BALKAN
Beberapa waktu Ustmani semakin berkembang dan kuat, mereka mulai menundukkan negara-negara ghazi yang lain, banyak cara Ustmani menundukkan ghazi-ghazi tersebut, sebagaian mereka taklukkan dan kadang-kadang beberapa ghazi dibeli oleh Ustmani. Para kepala suku ghazi yang merupakan emir berdaulat menjadi bangsawan feodal yang memiliki kekuasaan sendiri, tetapi tetap tunduk kepada kepala kepemerintahan yaitu Dinasti Ustmani.

Ustman yang sudah menguasai daerah perbatasan, ingin menguasai daerah diluar daerah kepemerintahannya, Ia ingin menundukkan daerah-daerah Byzantium. Ustman sendiri memiliki faktor-faktor untuk menguasai daerah lain yaitu:
1. Mencari tanah baru dan membina kehidupan bersama yang baru, bebas dari penindasan Mongol;
2. Melepaskan diri dari desakan-desakan suku-suku yang berimigrasi ke Anatolia Sentral;
3. Kelemahan dan kelesuan dalam daerah perbatasan Byzantium;
4. Menghadapi orang Nasrani dalam semangat Jihad.

Pada tahun 1301 M, Ustman memulai ekpansinya ke daerah Byzantium. Pada awalnya membangun sebuah pangkalan di selatan sungai Sankara dan masuk ke Byzantium melalui barat sungai. Pasukan Byzantium yang mendengar berita ini segera melakukan perlawanan untuk menghentikan invasi Ustmani. Pertempuran terjadi pada tahun 1302 M di dekat kota Nikomedia, perang ini berhasil dimenangkan oleh Ustman. Setelah memangkan perperangan di Nikomedia Ustman melanjutkan invasinya ke Nicea dan Brusa, tetapi sebelum dia menaklukan Nicea dan Brusa pada 1324 M Ustmani meninggal. Tapi dia berhasil mengendalikan semua Bythinia Byzantium.

sultan ustman I
Gambar: Sultan Ustman I

Kematian Ustman membuat invasi Ustmani tertunda, selang 2 tahun Orhan menggantikan ayahnya Ustman untuk menggantikan ayahnya sebagai Pemimpin Ustmani. Orhan meneruskan tujuan ayahnya menginvasi Eropa. Orhan berhasil menguasai kota Prusa pada tahun 1326 M, serta menjadikan Prusa sebagai Ibu kota Ustmani yang baru dengan mengganti namanya menjadi Bursa, dan Orhan mengambil gelar Sultan. Setelah menguasai Bursa Orhan melanjutkan invasinya ke daerah Nicea untuk menguasai daerah tersebut, disana Orhan dicegat oleh pasukan Byzantium pada musim semi tahun 1329 M.

sultan orhan
Gambar: Sultan Orhan I

Pasukan Byzantium dipimpin oleh Andronikus dan John Cantacuzenus menyeberangi selat Bithynia dan melakukan penyerangan terhadap Orhan di kota Pelekanon. Orhan berhasil mengalahkan Pasukan Byzantium dan mengakhiri kekuasaan Byzantium di Bithynia dengan menguasai kota Nicea pada 2 Maret 1331 M. Orhan pun berhasil merebut kota Nicomedia dari tangan Byzantium dan membuat Byzantium semakin bingung melawan Ustmani. Akhirnya sebelum dikuasainya Nicomedia dari Ustmani Andronikus membuat perjanjian dengan Sultan Orhan di tahun 1333 M dan Orhan menikahi putri Cantacuzenus yaitu Theodora.

Pada tahun 1354 M, Orhan beserta anaknya Suleyman menyeberang ke Hellenspot dan berhasil menduduki semenanjung Gallipoli. Orhan meninggal pada tahun 1362 M dan digantikan putranya Murad. Murad yang baru menjadi Sultan yang baru di Ustmani, tahun berikutnya berhasil menguasai kota Adrianapolis, orang Turki menyebutnya Edirne dan memindahkan ibu kota yang sebelumnya di Bursa menjadi di kota Edirne. Pada tahun 1355 M, kerajaan Serbia mengalami krisis dan pada tahun 1360 M kerajaan Bulgaria menjadi lemah, dan ini juga merupakan jalan untuk ekspansi Ustmani selanjutnya.

sultan murad
Gambar: Sultan Murad I

Murad mengikuti langkah ayahnya Orhan. Menyerang dan terus mendesak kerajaan sebelah Utara dan Barat Balkan. Pada tahun 1366 M menguasai lembah sungai Muritza dan pegunungan Balkan, kemudian menaklukkan Sofia (1385 M) dan kota Nish, yang terletak pada sungai Morava (1386 M). Melalui jalur Selatan menyerang Seres (1383 M) sampai ke Saloniki (1387 M). Dengan menguasai daerah-daerah Balkan, kerajaan Bulgaria, Serbia dan Bosnia menjadi negara bawahan Ustmani, dengan syarat putra mahkota kerajaan harus ditangkap dan dipenjara di Istana Ustmani agar tidak terjadi pemberontakan.

peta dinasti ustmani masa pemerintahan murad I
Gambar: Peta Dinasti Ustmani Pada Masa Pemerintahan Murad I

Sekitar tahun 1387 M dan 1389 M, terjadi pemberontakan yang dilakukan oleh raja-raja vassal, karena saat itu keamanan daerah Balkan agak mengendor. Pada saat itu Murad berperang melawan pemberontakan di Anatolia serta memperluas daerah penjajahan. Pemberontakan di Balkan dilakukan dari kerajaan Bulgaria dipimpin oleh Czar Shisman, kerajaan Serbia dipimpin oleh Raja Lazarus. Pemberontakan ini dibentuk atas nama anti-Turki dan mengusir Turki Ustmani dari Balkan, Serbia dan Bulgaria dibantu Bosnia dan Kesovo. Pada 15 Juni 1389 M, di dataran Kesovo terjadi perang antara Turki Ustmani dan koalisi anti-Turki pertarungan tersebut memakan banyak korban, dipenghujung perang Murad dan Lazar tewas. Saat Bayazid secara sigap mengambil pimpinan perang dan menguasai kendali peperangan sekaligus meraih kemenangan perang. Bulgaria dan para bangsawan Serbia dibantai oleh Beyazid. Dengan ini kekuasaan Ustmani di Balkan menjadi kuat dan melakukan penyebaran agama Islam.


Description: islamisasi balkan, islam di balkan, islamisasi di eropa

Lanjutkan baca...

Salah seorang tokoh yang mampu memformulasikan konsep Al-Qur’an dalam paradigma yang jelas terutama berkaitan dengan filsafat sejarah adalah Murtadha Muthahhari. Dia adalah ulama intelektual abad ke-20 yang dijadikan sebagai salah seorang model sarjana Islam yang telah memenuhi tiga syarat yang banyak diimpikan, tetapi jarang bertemu dalam satu pribadi, yaitu akar yang kokoh pada studi Islam tradisional, penguasaan memadai atas ilmu-ilmu non-agama, dan sebagai penulis prolifik yang memiliki karya-karya nyata di bidang sosial.
Hadirnya Murtadha Mutahhari dalam dunia pemikiran Islam merupakan sebuah langkah positif dalam memperkaya khasanah pemikiran, terutama konsep tentang masyarakat dan sejarah. Munculnya pemikiran Murtadha Mutahhari tentang masyarakat dan sejarah didasarkan pada adanya teori masyarakat dan sejarah yang diformulasikan dalam bentuk matrealisme sejarah yang dalam alur pemikirannya tidak sesuai dengan logika Islam.


A. BIOGRAFI MURTADHA MUTAHHARI
Murtadha Mutahhari lahir 2 Februari 1919 di Fariman, Iran. Ayahnya Hujjatul Islam Muhammad Husein Mutahhari, terkenal sebagai alim yang dihormati. Ia dibesarkan dalam asuhan ayahnya yang bijak sampai usia 12 tahun. Pada 1932, ketika berusia 12 tahun, Murtadha Mutahhari belajar di lembaga pendidikan di Masyhad. Kemudian 12 tahun berikutnya, 1944, Murtadha Mutahhari tiba di Qum, pusat intelektual dan spiritual Islam di Iran untuk melanjutkan studinya. Selama belajar di Qum, guru utamanya adalah Imam Khomeini. Waktu itu Khomeini masih termasuk seorang pengajar muda yang sangat menonjol, baik karena kedalaman dan keluasan wawasan ke-Islamannya, maupun kemampuannya dalam menyampaikan perkuliahan. Secara aktif, Murtadha Mutahhari mengikuti perkuliahan Khomeini sejak 1946 sampai dengan tahun 1951. Mata kuliah yang diberikan Khomeini meliputi usul fikih, fikih, falsafat, tasawuf, dan teologi. Diantara murid-muridnya, Murtadha Mutahhari adalah yang paling dekat hubungannya dengan Khomeini. Kemudian, diantara para guru yang cukup berpengaruh terhadap Mutahhari di Qum, adalah Muhammad Husein Thabathaba'i, seorang mufasir besar dan guru Falsafat yang cukup terkenal.

Pada 1952, Murtadha Mutahhari meninggalkan Qum menuju Teheran, ibukota Iran. Di kota ini ia mengakhiri masa lajangnya, menikah dengan putri Ayatullah Ruhani. Pada tahun 1974, dalam usia 36 tahun, ia mengajar logika, filsafat, dan fikih di fakultas theologia, universitas Teheran. Ia menjabat sebagai ketua jurusan filsafat. Keluasan ilmunya tampak pada nama-nama kuliah yang diasuhnya: kuliah filsafat, al-Ushul, ilmu kalam, al-Irfan (tasawuf), logika dan kuliah filsafat. Untuk penyebarluasan lebih lanjut pengetahuan ke-Islaman di kalangan masyarakat luas dan lebih mengakrabkan para ulama terhadap persoalan-persoalan sosial. Pada 1960, Murtadha Mutahhari mengorganisasikan sekelompok ulama Teheran, terkenal dengan Masyarakat Keagamaan Bulanan. Tujuan utama perkumpulan ini ialah menyajikan relevansi dan kontekstualisasi Islam dengan permasalahan sosial kontemporer, disamping itu, juga merangsang ide-ide reformis dikalangan ulama yang cenderung tradisional.

Pada 1965, didirikan lembaga serupa, Husainiya-yi Irsyad, namun jauh lebih penting artinya. Lembaga tersebut terletak di Teheran Utara dan dimaksudkan untuk merebut kesetiaan kaum muda berpendidikan sekuler terhadap Islam. Mutahhari disamping sebagai anggota badan pengarah, juga memberikan kuliah di Husainiya-yi Irsyad. Bahkan, ia menyunting dan menyumbangkan tulisannya bagi beberapa penerbitan lembaga tersebut. Namun akhirnya, Murtadha Mutahhari keluar dari Husainiya-yi Irsyad. Sementara itu, ia terus mengajar, baik di Universitas Teheran maupun di tempat-tempat lain. Sejalan dengan itu, dengan tekun, Mutahhari terus aktif menulis sampai tahun kewafatannya. Ada sekitar 60 buku, disamping puluhan artikel dan kaset rekaman yang belum dipublikasikannya. Karya-karyanya meliputi seluruh bidang pengetahuan ke-Islaman. Karya-karyanya telah diterjemahkan dalam beberapa bahasa. Diantara karya-karyanya adalah sebagai berikut :"Pavarki" bar ushul falsafah va raush ri’aslim, Dastam Rastam, Mas’alah Hijab, Insan Wa Syarnusyt, Adl Illahi, Ila Karasyi bin Madikari, Jadzabeh wa Daf’ah Imam Ali, Khidmat Mutaqabil Islam va Iran, Insone Komil, dan lain-lain.

Pemerintahan dibawah tangan Shah Pahlavi ternyata harus membuat ulama ini bekerja keras dalam mempertahankan eksistensi ideologi, karena dalam masa Shah Pahlevi, mendeskreditkan ideologi Islam merupakan tujuan utamanya. Untuk itu Murtadha Mutahhari memenuhi hidupnya untuk berjuang melawan rezim diktator dibawah Shah Pahlevi. Bersama Ayatullah Imam Khomeini, ia memimpin jalannya revolusi Islam Iran tahun 1979. Berbagai aktivitas dalam dunia politik ia tekuni dalam rangka menundukkan pemerintahan pada waktu itu. Keterlibatan dalam dunia politik inilah yang akhirnya merenggut nyawanya, pada tanggal 2 Mei 1979.

murtadha mutahhari
Gambar: Murtadha Mutahhari


B. PENGERTIAN SEJARAH MENURUT MURTADHA MUTAHHARI
Menurut Murtadha Mutahhari (1986:65), sejarah dapat didefinisikan dalam tiga cara yaitu:
1. Pengetahuan tentang kejadian-kejadian, peristiwa-peristiwa, dan keadaan-keadaan kemanusiaan di masa lampau dalam kaitannya dengan kejadian-kejadian masa kini. Pengertian tersebut meliputi empat hal yaitu:
  1. Sejarah merupakan pengetahuan tentang sesuatu berupa pengetahuan tentang rangkaian episode pribadi atau individu, bukan merupakan pengetahuan tentang serangkaian hukum dan hubungan umum.
  2. Sejarah merupakan suatu telaah atas riwayat-riwayat dan tradisi-tradisi, bukan merupakan disiplin rasional.
  3. Sejarah merupakan pengetahuan tentang mengada (being), bukan pengetahuan tentang menjadi (becoming).
  4. Sejarah berhubungan dengan masa lampau, bukan masa kini. Tipe sejarah ini menurut Mutahhari disebut sebagai sejarah tradisional (tarikh naqli) atau sejarah yang ditransmisikan (transmitted history).

2. Sejarah merupakan pengetahuan tentang hukum-hukum yang tampak menguasai kehidupan masa lampau, yang diperoleh melalui penyelidikan dan analisis atas peristiwa-peristiwa masa lampau. Sejarah dalam pengertian ini menurut Mutahhari disebut sebagai sejarah ilmiah.

3. Filsafat sejarah (kesejarahan) didasarkan pada pengetahuan tentang perubahan-perubahan bertahap yang membawa masyarakat bergerak dari satu tahap ke tahap yang lain. Filsafat sejarah membahas tentang hukum-hukum yang menguasai perubahan-perubahan ini. Dengan kata lain, filsafat sejarah adalah ilmu tentang proses menjadinya (becoming) masyarakat, bukan hanya tentang maujudnya (beeing) saja.


C. FILSAFAT SEJARAH MENURUT MURTADHA MUTAHHARI
1. Filsafat Sejarah
Filsafat sejarah bersifat rasional ('aqli), bukan tradisional (naqli). Filsafat sejarah merupakan pengetahuan tentang menjadinya masyarakat, bukan tentang maujudnya. Namun perlu dicatat, bahwa penggunaan atau pemakaian istilah 'filsafat sejarah', hendaknya tidak semata diartikan bahwa filsafat sejarah hanya berhubungan dengan masa lampau. Sebaliknya, filsafat sejarah merupakan telaah tentang arus menerus yang berasal dari masa lampau dan terus mengalir menuju masa mendatang. Waktu, dalam menelaah tipe masalah ini, tidak boleh dianggap hanya sebagai suatu bejana (yang diisi oleh kenyataan sejarah), tetapi harus pula dipandang sebagai salah satu dimensi kenyataan ini (Murtadha Mutahhari, 1986: 71).

2. Sejarah Ilmiah
Sejarah ilmiah didasarkan pada sejarah tradisional. Sejarah tradisional memberikan bahan untuk laboratorium sejarah ilmiah. Dengan demikian, pertama, harus diselidiki dengan sempurna apakah kandungan sejarah tradisional itu otentik dan dapat dipercaya. Apabila tidak dapat dipercaya, maka seluruh penelitian dan kesimpulan ilmiah atas hukum-hukum yang menguasai masyarakat-masyarakat masa lampau akan sia-sia dan tidak bermakna. Apabila sejarah tradisional itu dapat dipercaya, dan bahwa hakikat dan kepribadian masyarakat itu tak tergantung pada individu, maka penyimpulan atas hukum-hukum umum peristiwa-peristiwa dan episode-episode sejarah akan bergantung pada hipotesis bahwa hukum sebab-akibat atau ketentuan sebab-akibat, menguasai lingkup kegiatan manusia.

3. Filsafat Sejarah Islam
Menurut Mutahhari untuk mengetahui pandangan suatu aliran pemikiran mengenai sifat sejarah, bisa digunakan ukuran tertentu yang dapat membantu, sehingga dapat memastikan pendekatannya terhadap berbagai gerakan sejarah dan peristiwa. Untuk itu, ia mengajukan beberapa ukuran yang dipandang tepat untuk telaah tersebut. Al-Quran dengan jelas mengatakan bahwa nasib manusia tidak pernah berubah kecuali apabila ia mengubah sikap mental dan keruhaniannya (Al-Quran, 13:11). Menurut Muthahhari, ayat ini dengan jelas menafikan teori determinisme ekonomi sejarah.

  1. Strategi Dakwah
  2. Menurut Muthahhari, Islam tidak memandang moralitas hanya sebagai cita-cita damai, peyakinan melalui cara-cara damai nan lembut, dan cinta kasih, seperti yang ditekankan dalam agama Kristen, Islam menyatakan bahwa kadang-kadang kekuatan juga adalah moral. Dengan alasan ini juga, Islam memandang perjuangan melawan kezaliman sebagai suatu tugas suci, dan dalam keadaan-keadaan tertentu, berjihad, yang berarti perjuangan bersenjata, adalah wajib.
  3. Daftar Istilah Suatu Ideologi
  4. Salah satu ciri khas Islam adalah bahwa agama ini tidak memberikan cap-cap yang bersifat ras, kalas, profesi, daerah atau perseorangan untuk memperkenalkan diri atau para pengikutnya. Para pengikut agama ini tidak dicirikan dengan cap-cap seperti orang Semit, miskin, kaya, tertindas, putih, hitam, Asia, Barat, Timur, Muhammadan, Quranis, dan Ka’bais. Tak satu pun dari label-label semacam itu dipandang sebagai identitas para pengiktnya. Islam berarti penyerahan kepada Allah, tidak lebih dari itu. Islam adalah penyerahan diri kepada kebenaran.
  5. Syarat-Syarat Positif dan Negatif Untuk Penerimaan
  6. Bagaimanakah keadaan-keadaan baik dan tak baik menurut Islam? Penafsiran Islam atas keadaan-keadaan ini berkisar di sekitar sifat manusia. Kadang-kadang Al-Quran menekankan kesenantiasa-takwaan; kadang-kadang menyebut perasaan yang timbul berkat kesadaran akan tanggung jawab terhadap keseluruhan sistem keberadaan sebagai suatu keadaan; atau kadang-kadang menyebutkan bahwa fitrah yang dikaruniakan oleh Allah dalam diri seseorang harus tetap utuh dan hidup ‘untuk memberi peringatan kepada yang hidup. Jadi, keadaan-keadaan penting, menurut Islam, agar bisa menerima seruannya ialah takwa, kecemasan dan pengertian yang timbul dari rasa tanggung jawab terhadap sistem ciptaan dan kesenantiasaan fitrah yang dikaruniakan Allah.
  7. Bangun dan Jatuhnya Masyarakat
  8. Sebab-sebab kebangunan dan kemajuan masyarakat serta sebab-sebab kemunduran mereka menurut Muthahhari meliputi: keadilan dan kezaliman, persatuan dan perpecahan, amar ma’ruf nahi munkar. (Ketika manusia bergegas melaksanakan kebaikan dan menghindari kemaksiatan atau penyimpangan, mereka akan segera mendapatkan kemajuan dalam peradabannya, sebaliknya yang mengabaikannya akan terjurumus dalam kehancuran) dan kebobrokan moral.

4. Gerak atau Dinamika Sejarah
Dalam buku-buku filsafat sejarah, masalah-masalah dinamika sejarah dan faktor-faktor penggerak yang menyebabkan gerak maju masyarakat biasanya dirumuskan dalam suatu cara pemikiran tertentu. Beberapa teori yang berkaitan dengan gerak sejarah adalah:
  1. Teori Rasial
  2. Menurut teori ini, ras-ras tertentu merupakan penyebab utama kemajuan sejarah. Beberapa ras mampu menciptakan budaya dan peradaban, sedang ras lain tidak memiliki bakat semacam itu. Beberapa ras memberikan sumbangan kepada ilmu pengetahuan, falsafah, kesenian, keterampilan, dan moralitas, sementara ras-ras lainnya hanya merupakan konsumen produk-produk ras-ras tertentu
  3. Teori Geografis
  4. Menurut teori ini, faktor utama penyebab terciptanya perbedaan dan budaya serta perkembangan industri ialah lingkungan fisik. Perangai-perangai moderat dan pikiran-pikiran kuat berkembang di kawasan-kawasan beriklim sedang. Pada permulaan bukunya, al-Qanun, Ibn Sina membahas secara terinci pengaruh faktor lingkungan fisik atas ragam pemikiran, rasa, dan segi-segi kejiwaan lainnya dari kepribadian manusia.
  5. Teori Peranan Jenius dan Pahlawan
  6. Menurut teori ini, seluruh perubahan dan perkembangan ilmiah, politik, teknologi, dan moral sepanjang sejarah ditimbulkan oleh orang-orang jenius.
  7. Teori Ekonomi
  8. Menurut teori ini, ekonomi merupakan faktor penggerak sejarah. Semua ragam masyarakat dan sejarah setiap bangsa, termasuk segi-segi budaya, agama, politik, militer, dan masyarakat, mencerminkan ragam dan hubungan-hubungan produksi suatu masyarakat. Perubahan apa pun dalam dasar ekonomi suatu masyarakat, secara keseluruhan, mengubahnya dan membawanya maju.
  9. Teori Keagamaan
  10. Menurut teori ini, semua kejadian di dunia berasal dari Tuhan dan ditentukan oleh kebijaksanaan sempurna Tuhan. Segala evolusi dan perubahan yang terjadi dalam sejarah merupakan perwujudan-perwujudan kehendak Tuhan dan Kebijaksanaan Sempurna Tuhan. Jadi, penggerak dan pengubah sejarah ialah Kehendak Tuhan. Drama sejarah ditulis dan diarahkan oleh Kehendak Tuhan. Menurut Mutahhari, kebanyakan teori tidak berhubungan secara memadai dengan sebab penggerak sejarah. Misal, teori rasial merupakan hipotesis sosiologi yang dapat dikemukakan dalam hubungan dengan masalah apakah semua ras memiliki jenis-jenis bakat turunan yang sama dan pada tingkat yang sama. Demikian juga dengan teori geografi, hal ini bermanfaat dalam konteks sosiologis mengenai peranan lingkungan kawasan dalam perkembangan kemampuan-kemampuan pikir, budaya, susila, dan kejiwaan manusia. Menurut teori ini, gerakan sejarah terbatas pada manusia suatu kawasan tertentu, pada kawasan lainnya kehidupan tetap statis dan tidak berubah sebagaimana kehidupan hewan.
  11. Teori Alam
  12. Ada teori ketiga yang dapat disebut 'teori sifat manusia'. Menurut teori ini, manusia memiliki sifat-sifat melekat tertentu, yang bertanggung jawab atas watak evolusioner kehidupan masyarakat. Salah satu sifat semacam itu ialah kemampuan mengumpulkan dan menyimpan pengalaman-pengalaman hidup. Segala yang telah diperoleh melalui pengalaman disimpan sehingga menjadi dasar bagi pengalaman-pengalaman selanjutnya. Sifat kedua manusia adalah kemampuannya untuk belajar lisan dan tulisan. Pengalaman-pengalaman dan hasil-hasil yang telah dicapai orang lain dikomunikasikan melalui lisan dan tulisan. Sifat ketiga manusia adalah bahwa ia mampu bernalar dan mencipta. Sifat ketiga ini membuatnya mampu mencipta dan menemukan, yang merupakan perwujudan dari daya ciptanya.


Description: filsafat sejarah murtadha mutahhari, pemikiran murtadha mutahhari, murtadha mutahhari

Lanjutkan baca...

Trailer Film Senthir (Kartini) karya Mahasiswa Pendidikan Sejarah UNY angkatan 2010

Lanjutkan baca...